MAKALAH PENYUSUNAN BAHAN MENYIMAK
PENYUSUNAN BAHAN MENYIMAK
Pengajaran bahasa Indonesia bertujuan memberikan pengetahuan kebahasaan agar
murid mampu menguasai bahasa Indonesia sebaik-baiknya. Untuk mencapai tujuan
ini maka, pada dasarnya ada empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh
murid secara baik dan benar sebagaimana tercantum dalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), yaitu keterampilan menyimak (listening skill)
keterampilan berbicara (speaking skill), keterampilan membaca (reading
skill), dan keterampilan menulis (writing skill).
Dari keempat keterampilan berbahasa (language skill) yang dikemukakan
di atas, hanya keterampilan menyimak yang akan menjadi perhatian dalam makalah
ini karena pada umumnya pengetahuan diperoleh melalui keterampilan menyimak. Setiap
orang mendengar berita-berita melalui media massa maupun informasi melalui
tatap muka, saat itu telah berlangsung pula kegiatan menyimak. Oleh karena itu,
pengajaran menyimak mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses
pembelajaran di sekolah dasar sebab kemampuan menyimak yang baik adalah kondisi
awal untuk menghasilkan prestasi belajar yang baik.
Berbagai pengalaman dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia
mengindikasikan bahwa kemampuan menyimak murid sekolah dasar belum optimal. Hal
ini dapat diketahui dari hasil penelitian Muhaimin (2006) yang dicapai murid
dalam proses-belajar mengajar di mana murid yang terlibat dalam kegiatan, yang
mampu menyimak secara baik dan benar mempunyai persentase yang masih rendah.
Indikasi ini menandakan masih rendahnya kemampuan menyimak murid tersebut
terlihat pula hasil yang diperoleh dalam ulangan semester misalnya. Daya serap
murid pada semua mata pelajaran dari seluruh murid dalam suatu kelas masih
banyak nilai di bawah nilai standar 7,5. Ini berarti penguasaan murid terhadap
mata pelajaran juga masih rendah.
Setelah ditelusuri lebih jauh, hal tersebut di atas ternyata (salah satu)
disebabkan oleh kurangnya kemampuan murid menyimak materi pelajaran. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa ada kesenjangan antara hasil pengajaran
menyimak dengan target ideal, yaitu tercapainya kemampuan optimal murid dalam
menyimak.
B.
DUOLOG
DAN DIALOG
Sering
kita beranggapan bahwa kegiatan menyimak tidak perlu dipelajari, kegiatan itu
akan muncul secara alamiah karena memang begitu banyak mempergunakan waktu kita
dalam “aneka situasi menyimak” dalam kehidupan sehari-hari; misalnya: berbicara
dengan teman-teman, mengikuti kuliah, mendengarkan ceramah, menonton televisi,
dan mendengarkan siaran radio. Ada lagi orang beranggapan bahwa kalau struktur
telinga seseorang normal dan kapasitas pendengarannya baik, mau tidak mau orang
itu secara otomatis dapat menyimak dengan baik. Belum tentu! Walaupun telinga
seseorang baik secara anatomis yang memungkinkannya dapat menyimak, belum tentu
secara otomatis pasti efisien. Menyimak baik, seperti keterampilan lainnya
perlu bagi komunikasi lisan yang efektif, haruslah dikembangkan dan
ditingkatkan. Pendeknya: menyimak efektif itu harus dipelajari.
Untuk
melukiskan atau mengilustrasikan kurangnya keterampilan yang baik dalam bidang
menyimak dalam masyarakat modern, agaknya dapat kita pergunakan konsep Abraham
Kaplan mengenai duolog. Sebagai lawan dari dialog, duolog merupakan suatu
situasi kelompok dua orang atau kelompok kecil yang masing-masing memperoleh
giliran berbicara, tetapi tidak seorang pun menyimaknya. Kita dapat menemui
contoh-contoh duolog sekolah, gereja, masjid, dan pemerintahan. Walaupun
orang-orang dapat terlihat seolah-olah menyimak satu sama lain, tetapi dalam
kenyataannnya mereka hanya menunggu waktu sampai tiba giliran bicara. Sementara
satu orang berbicara, yang lainnya sibuk berpikir atau merenung, bukan mengenai
sesuatu yang akan menjadi response mereka nanti. Menurut pendapat Kaplan, suatu
duolog dapat dibandingkan secara baik dengan dua perangkat televisi yang
dipasang dalam saluran-saluran yang berbeda dan keduanya saling berhadapan.
Sebaliknya,
dialog yang sejati melibatkan penyimakan kepada orang lain seperti halnya pada
diri sendiri. Dialog menuntut ancangan atau pendekatan terbuka, suatu kesudian
menaruh perhatian kepada orang lain dan member response secara sopan kepada
mereka tanpa latihan dan ulangan. Menyimak merupakan suatu sarana penting dan
berguna bagi hubungan-hubungan antarpribadi yang bermakna. Kegunaan dialog ini
sangat terasa dalam kehidupan modern, terlebih dalam bidang politik antarnegara
(adikuasa; seperti antara Amerika Serikat dan Soviet-Rusia). Dalam dialog ini
dibutuhkan benar-benar keterampilan berbicara dan keterampilan menyimak yang
bermutu tinggi. Salah simak dapat menggagalkan maksud dan tujuan kedua belah
pihak. Oleh karena itu, kedua belah pihak pun menyimak secara kritis dan cermat
(Webb; 1975 : 126-8).
Kerap
kali pula orang beranggapan bahwa dialog, pembicaralah yang memegang peranan
penting, paling bertanggung jawab bagi komunikasi lisan yang efektif. Mereka
lupa atau tidak memahami sama sekali bahwa komunikasi
lisan merupakan kegiatan atau transaksi dua arah antara pembicara dan penyimak;
bukan merupakan serangan lisan satu arah yang dilakukan pembicara kepada
penyimak. Perlu diingat dan disadari benar bahwa tanpa menyimak yang baik,
dan penyimak yang baik, tidak akan ada umpan balik; dan tanpa umpan balik, para
pembicara akan dipaksa menyuarakan atau mendengungkan pesan-pesan mereka tanpa
tujuan dan tanpa maksud, sia-sia belaka. Oleh karena itu, kalau kita berada
pada pihak penyimak, jadikanlah diri kita penyimak yang terpuji: tahu bagaimana
cara menyimak dan tahu apa yang harus disimak. Kalau berada pada pihak
pembicara, kita harus tahu menarik minat dan perhatian para penyimak. Ingat
bahwa pembicara membutuhkan penyimak dan penyimak membutuhkan pembicara. Pendek
kata: menyimak adalah interaksi pembicara
dan pemirsa (Ehninger [et all], 2978: 21).
- HAKIKAT PERHATIAN
Perlu
kita camkan benar bahwa menyimak adalah
suatu penerimaan yang aktif terhadap informasi lisan. Lebih dari sekedar
penerimaan stimulus atau suatu tindakan yang refleksif, menyimak juga merupakan
suatu perilaku yang dapat dianalisis dan dimodifikasi; merupakan sesuatu yang
dapat kita pilih untuk dilaksanakan atau tidak dilaksanakan sama sekali; kita
dapat menentukan apakah perlu diberi wadah atau tidak; kita dapat menentukan
tingkat keefektifannya; dan kita dapat mengganti bahkan meningkatkan atau
mengembangkannya.
Kalau menyimak merupakan suatu tindakan
elektif atau perbuatan fakultatif, perhatian yang sangat perlu bagi penyimakan
yang baik, merupakan suatu perilaku selektif atau kelakuan terpilih. Contohnya
pada suatu ketika, kita memilih untuk menyimak lagu-lagu ciptaan Rinto Harahap
pada waktu senggang; kemudian dari sekian banyak lagu ciptaannya, kita
menyeleksi lagu pujaan kita lalu kita menyimaknya dengan penuh perhatian.
Demikianlah dapat kita simpulkan bahwa perhatian adalah suatu proses
penyelesaian dari berbagai ragam stimuli sebuah stimulus yang penting bagi
seseorang pada saat-saat tertentu. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa
perhatian bersinonim dengan persepsi selektif (Webb, 1975: 130).
Ada
orang yang akan berkata bahwa mungkin saja seseorang menaruh perhatian pada
sesuatu tanpa menyimaknya, atau ada orang yang beranggapan bahwa mungkin saja
seseorang memproses secara stimulasi awal atau perangsang lisan tanpa
menyimaknya secara aktual. Tetapi pada umumnya, tidak mungkin seseorang
menyimak sesuatu tanpa menaruh perhatian padanya.
Pengertian
perhatian itu sendiri tidak
sesederhana anggapan kebanyakan orang; justru sangat rumit dan kita belum
mengetahui banyak mengenai itu. Yang jelas kita ketahui ialah bahwa perhatian
itu beroperasi pada situasi, sikap dan rasa. Perhatian yang diberikan terhadap
suatu percakapan pada suatu pesta berbeda tipe dan intensitasnya dari perhatian
yang kita berikan pada saat ujian lisan. Perhatian yang kita berikan kepada
tukang minyak berbeda dengan perhatian yang kita berikan kepada tukang jamu.
Perhatian yang diberikan oleh para siswa kepada mata pelajaran sejarah berbeda
dari perhatian yang mereka berikan pada mata pelajaran agama.
Ada
seorang pakar yang menyarankan bahwa konsep perhatian itu mencakup berbagai
faktor, antara lain:
1. Konsentrasi mental : mengonsentrasikan diri pada tugas
mental dan mencakup stimulus yang akan berbaur dengan performansi atau
penampilan, seperti halnya pada saat kita belajar di perpustakaan dan
menghilangkan/ meniadakan bunyi-bunyi yang tidak perlu.
2. Kewaspadaan :
melihat jam atau waktu, walaupun sebenarnya tiada terjadi apa-apa; sama halnya
dengan polisi lalu lintas yang harus siap bertugas, walaupun di jalanan tiada
kendaraan atau orang berjalan; biar sepi polisi siap berdiri di persimpangan
jalan.
3. Selektivitas : mampu memilih;
menerima beberapa pesan sekaligus, serentak; dan menyeleksi satu saja untuk
diterima dan diberi jawaban, seperti halnya pada sebuah pesta, para pelayan
menawarkan berbagai minuman dan atraksi kepada kita.
4. Mencari dan memeriksa :
memburu suatu tanda tertentu di antara seperankat tanda-tanda, seperti halnya
dalam mengidentifikasikan tema sepenggal musik atau pesan dalam suatu ceramah
atau khotbah.
5. Aktif dan giat : selalu siap sedia, terus siaga
menjawab apa saja yang akan muncul, memberi responsi terhadap segala ucapan, seperti
pada saat seseorang berkata, "para hadirin yang terhormat, kami meminta
perhatian Anda bahwa Bapak Menteri yang kita nanti-nantikan telah datang dan
akan memberi ceramah sebentar lagi."
6. Penataan diri :
menata atau mempersiapkan diri baik-baik untuk memberikan reaksi atau sambutan
dengan cara tertentu baik secara mental maupun secara secara fisik, seperti
halnya dalam suatu perdebatan ataupun pada panggung pembuatan film. (Horay,
1970 : 5-6).
Setelah mengetahui serta mendalami
faktor-faktor yang tersirat dalam konsep perhatian di atas, jelas bagi kita
betapa rumitnya masalah itu, dan betapa besarnya upaya yang harus dilakukan
untuk menarik perhatian orang lain, khususnya dalam bidang menyimak
Nah, kalau kita menerima daftar di
atas sebagai suatu penjelasan mengenai apa perhatian itu, toh kita masih juga
menyampingkan masalah-masalah mengenai bagaimana terjadinya perhatian itu.
Dengan kata lain, kita telah membatasi konsepnya dan kita telah pula
menjelaskan cabang-cabangnya yang beraneka ragam, tetapi kita belum mengetahui
bagaimana cara kerjanya.
Memang ada berbagai teori mengenai
perhatian. Berbagai teori telah dirumuskan, telah diformulasikan untuk
menjelaskan proses perhatian, apa yang terjadi dalam otak dan pikiran kita pada
saat kita sedang beraksi.
Berikut ini teori-teori yang
berkenaan dengan perhatian itu:
1. Teori
Seleksi-Responsi
2. Teori
Saringan
3. Teori
Seleksi Masukan
- FAKTOR PEMENGARUH PERHATIAN
MENYIMAK
Kalau
kita sepakat bahwa keterampilan menyimak yang baik sangat penting bagi komunikasi
lisan yang efektif, kita harus mulai sedini mungkin menentukan cara-cara khusus
untuk meningkatkan keterampilan ini. Akan tetapi, sebelum kita melakukan hal
ini, kita harus mencoba memahami factor-faktor yang dapat mempengaruhi
perhatian kita untuk menyimak. Kita harus memperhitungkan pengalaman,
pembawaan, sikap dan motivasi yang dapat menunjang penyimakan yang baik sebelum
kita menelaah aneka metode bagi peningkatan keterampilan ini.
Faktor pengalaman sangat
menentukan besar atau tidaknya perhatian seseorang untuk menyimak sesuatu.
Pengalaman yang dimaksudkan dapat berasal dari pembicara ataupun dari penyimak.
Setiap irang tentu menaruh perhatian terhadap pembicaraan yang disajikan oleh
orang yang banyak pengalaman dan banyak pengetahuan. Orang ingin mengetahui
masalah baru apa yang akan diceritakan oleh pembicara. Rasa ingin tahu
merupakan akar dari perhatian yang besar. Sekarang, pengalaman dari pihak
penyimak. Pernah seseorang menyesal karena tidak mau menyimak suatu informasi
yang dikemukakan oleh seorang pembicara, padahal informasi itu sangat penting
baginya. Pengalaman masa lalu itu mengajar dia untuk tidak dua kali kehilangan
tongkat. Oleh sebab itu, kalau ada pembicara yang akan menyampaikan suatu
pesan, dia selalu member perhatian besar.
Faktor pembawaan seseorang
pun turut berperan, apakah perhatiannya untuk menyimak sesuatu itu besar atau
tidak. Ada orang yang berpembawaan baik dan ada pula yang jelek. Orang yang
berpembawaan baik dapat menyesuaikan diri pada situasi dan kondisi, sedangkan
orang yang berpembawaan jelek justru sebaliknya. Baik pembawaan pembicara
maupun pembicaraan penyimak turut menentukan taraf perhatian seseorang untuk
menyimak.
Faktor sikap tidak
boleh kita abaikan terhadatp perhatian menyimak. Sikap terbuka memang sangat
dibutuhkan dalam kegiatan menyimak. Sebaliknya, sikap tertutup atau sikap
cutiga akan mengurangi minat atau perhatian seseorang untuk menyimak
pembicaraan seseorang.
Faktor motivasi, dorongan
atau alasan sangat menentukan besar atau tidaknya perhatian seseorang untuk
menyimak ceramah, kuliah, khotbah, atau pembicaraan yang dibawakan oleh seorang
pembicara. Biarpun seandainya terdapat banyak gangguan atau kendala fisik atau
mental, tetapi kalau ada motivasi besar, perhatian menyimak sesuatu tetap besar.
Faktor jenis kelamin dapat
menentukan kadar perhatian untuk menyimak. Minat dan perhatian pria dan wanita
memperlihatkan perbedaan, walaupun tidak dapat disangkal adanya persamaan. Ada
hal-hal khusus yang menarik perhatian wanita. Ada hal-hal khusus yang lebih
menarik perhatian pria. Pembicara yang berpengalaman tentu mempertimbangkan hal
ini. Tema bahan pembicaraan dapat berbeda kalau para penyimak terdiri dari kaum
wanita saja, atau terdiri dari pria saja, ataupun campuran. Memang harus
diingat bahwa ada hal-hal yang tidak pantas disimak oleh kaum pria dan ada pula
hal yang tidak sesuai bagi kaum wanita. Jadi dengan singkat dapat kita katakana
bahwa factor kelayakan ini tidak
boleh diabaikan.
- MENGAPA KITA MENYIMAK
Ada
beberapa alas an mengapa kita menyimak, diantaranya adalah:
- Menyimak
demi kenikmatan
- Menyimak
demi pemahaman
- Menyimak
demi penilaian
- BAHAN SIMAKAN YANG MENARIK
PERHATIAN
Dari
pembicaraan di muka dapatlah kita petik butir-butir pokok yang ada kaitannya
dengan upaya untuk membuat bahan simakan yang akan disajikan oleh seorang
pembicara sehingga menarik perhatian para penyimak.
Butir
pertama : Tema harus up-to-date
Butir
kedua : Tema terarah dan sederhana
Butir
ketiga : Tema dapat menambah pengalaman dan pemahaman
Butir
keempat : Tema bersifat sugestif dan evaluative
Butir
Kelima : Tema bersifat motivatif
Butir
keenam : Pembicara harus dapat menghibur
Butir
ketujuh : Bahasa sederhana mudah dimengerti
Butir
kedelapan : Komunikasi dua arah.
KESIMPULAN
Syarat-syarat
bahan simakan yang harus disusun agar menarik perhatian penyimak:
- Tema
yang mutakhir,
- Tema
yang terarah dan sederhana
- Tema
yang menambah pengetahuan
- Tema
yang bersifat sugestif dan evaluative
- Tema
yang bersifat motivatif
- Dapat
menghibur, menyenangkan, penuh humor
- Bahasa
yang sederhana dan mudah dimengerti
- Harus
bersifat duolog, bukan dialog melulu.
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Menyimak Sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Angkasa, Bandung.
Komentar
Posting Komentar